Bukit Lawang 13/12/2020. Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) untuk yang kedua kalinya diundang mengikuti Pendidikan dan Latihan Survey Kepadatan Populasi Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Pada akhir tahun 2020 ini, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) bekerjasama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dan Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Pematang Siantar menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan (DIKLAT) Survey Kepadatan Populasi dan Monitoring Orangutan Sumatera (OU) yang dipusatkan di kawasan ecolodges Bukit Lawang dan Stasiun Konservasi BBTNGL pada 7-12 Desember 2020.

Sebanyak 30 peserta yang berasal dari UPT Kementerian LHK di Provinsi Aceh, Dinas LIngkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, Perguruan Tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) turut dipanggil untuk berpartisipasi pada DIKLAT Survey Orangutan yang rencananya akan di laksanakan di kawasan TNGL dan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kepala Balai Diklat LHK Pematang Siantar Manahan Simangunsong S.Hut, M.Sc menerangkan bahwa pendidikan dan latihan angkatan II ini memuat materi Internalisasi Nilai nilai Revolusi Mental, kebijakan Konservasi Orangutan, desain sampling survey, tehnik dan pengumpulan data survey, tehnik analisis data kepadatan dan terakhir evaluasi monitoring survey kepadatan Orangutan. DIKLAT survey OU dilaksanakan di luar (outdoor) dan dalam ruangan (class room) sebagaimana kurikulum pelatihan yang disusun. Pada akhir sambutannya, beliau menyampaikan bahwa BDLHK bersama tim ahli OU di Indonesia akan terus melakukan penyempurnaan kurikulum dan menyusun modul pelatihan survey OU. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelatihan dan sebagai bentuk evaluasi sistem pendidikan dan latihan mengikuti tren yang berkembang khususnya Orangutan liar.

Menurut keterangan Dr. suci Utami Atmoko dari Forum Orangutan Indonesia (FORINA) yang berperan sebagai fasilitasi selama pelatihan, bahwasanya kegiatan survey OU sudah mulai dilakukan 10 tahun yang lalu di kawasan TNGL dan KEL untuk estimasi kepadatan populasi OU tahun 2010. Ditambahkan Dr. Suci untuk melihat trend perkembangan kepadatan populasi, harus dilakukan monitoring terperiodik di suatu wilayah habitat yang luas dengan titik objek observasi yang sama.
Setelah menguatan kapasitas tim survey, kegiatan survey dan monitoring OU akan dilakukan langsung di lapangan dengan menggunakan metode “transect line sistematic sampling” yang hasil data lapangannya dianalisis menggunakan metode “line transect distance” dengan bantuan software distance7.

Pendidikan dan pelatihan survey kepadatan populasi dan monitoring OU ditutup oleh perwakilan kepala BBTNGL. Dalam sambutan kepala balai besar yang sampaikan oleh kepala bidang teknis BBTNGL Adhi Nurul Hadi, taman nasional mengucapkan terima kasih atas waktu dan disiplinnya mematuhi protokol kesehatan selama proses belajar 6 hari penuh. Pada kegiatan survey nanti, para tim diharapkan tetap mengutamakan keselamatan dalam pengambilan data di lapangan dan semoga menghasilkan pencapaian kerja sebagaimana yang diharapkan.

Sebanyak 30 orang peserta dinyatakan lulus dengan predikat baik. Demikian laporan ketua panitia diklat yang disampaikan langsung oleh badan diklat LHK Pematang Siantar di hadapan pesarta dan lembaga/instansi penyelenggara saat seremoni penutupan DIKLAT. Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan yang diwakili oleh Ismed Ramadhan S.Hut, M.P memberikan apresiasi kepada pihak penyelenggara DIKLAT survey kepadatan populasi dan monitoring OU tahun 2020. Selain berguna sebagai membangun kapasitas dan persepsi tim dalam pengumpulan data lapangan, pelatihan ini juga bermanfaat sebagai transformasi ilmu dan juga publikasi bagi instansi, lembaga terutama institusi perguruan tinggi yang diundang. Karena pelatihan ini menguraikan sistematis tentang bagaimana proses dilakukannya survey kepadatan populasi satwa di alam liar. Hasil estimasi jumlah kepadatan populasi OU ini akan sangat bermanfaat sebagai referensi bagi mahasiswa melakukan penelitian tentang konservasi spesies untuk syarat mendapatkan gelar sarjana di ujian akhir. Diharapkan ke depan kegiatan yang sama juga dilakukan untuk jenis satwa lir lainnya seperti Harimau Sumatera, Gajah Sumatera, Buaya dll. Sehingga para peneliti menggunakan data baru dalam menyelesaikan penelitian ilmiahnya.
(Sumber: ismed ramadhan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *